Ada sebuah kisah unik yang saya lihat 2 kali minggu ini. Cerita ini sungguh memainkan emosi saya ketika dihadapkan oleh rasa perasa saya yang seringkali memaksa saya untuk peduli. Namun, apa bentuk kepedulian yang bisa saya berikan?
Banyaknya penghuni bawah jembatan-jembatan besar yang tersebar di Jakarta memang bukan hal aneh lagi. Gelandangan yang berstatus tunawisma itu memang banyak dijumpai disana tatkala beristirahat sedari mengamen dan mengemis. Serupa dengan tunawisma yang saya jumpai sebelumnya, sesosok tunawisma berjenis kelamin laki-laki ini juga berumah di bawah jembatan, tepatnya dibawah by pass. Teduh memang, namun seperti itulah kondisinya. Sudah hampir dua tahun saya mengenal tempat itu, sampai sekarang masih saja seperti itu. Agaknya pemerintah memang belum banyak bertindak mengenai para tunawisma di ibukota. Lalu apakah yang membuat saya dilanda emosi yang tidak karuan rasanya?
Pagi itu, di perjalanan menuju lokasi belajar, tak sengaja saya menempatkan pandangan mata saya ke arah si tunawisma yang sudah berumur itu. Awalnya saya tidak begitu memperhatikan, saya sudah sering melihat fenomena seperti ini di ibukota, namun begitu saya melihat benda bergerak di tangannya saya langsung memicingkan mata untuk melihatnya dengan jelas. Yang ditangannya itu adalah seekor anak kucing berwarna hitam yang entah induknya dimana. Seharusnya kucing sekecil itu masih disusui oleh induknya, tetapi siapa yang perduli dengan kucing mengeong-ngeong ditengah hiruk pikuk kendaraan seperti ini? read more
Amy Johnson


