Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Sebenarnya saya ngga setuju kalau wanita dibilang mudah bimbang, ngga punya pendirian. Kalau menurut saya wanita hanya penuh pertimbangan.

Misalnya dalam kasus belanja. Pertanyaan nyelekit yang sering muncul "Kenapa sih cewek itu belanjanya lama, padahal cuma beli baju?" Kalau dipikir-pikir, terkadang orang datang ke pusat perbelanjaan, katakanlah mall, bisa dengan tanpa referensi sebelumnya. Ketika tiba langsung dihadapkan berbagai macam pilihan. Kira-kira bingung tidak?

Masalahnya di lapangan juga terjadi penyimpangan. Penjaga stand yang seharusnya membantu pembeli memutuskan pilihan justru mengutit calon pembelinya karena takut barangnya dicuri. Jadi siapa yang mau memberikan referensi?

Nah, jadi bukan sepenuhnya masalah wanita kalau belanjanya lama. Mungkin kita harus memberikan sedikit kritik untuk penjaga stand. Bekerjalah sesuai job desk. Mengawasi pencurikan sudah menjadi tugas security.

Lalu untuk pria yang suka menggerutu. Lain kali temanilah wanitamu belanja. Berikan dia referensi. Kenapa beli A, kenapa B. Jangan malas, wanitakan ingin dimengerti :)

Selamat berweekend, Ki Sanak. Apakah Anda berencana belanja hari ini?

[Cathegory 2013, Curhat pagi]

Belajar SPSS


Bertepatan dengan Dies Natalis FISIP UI yang ke-45, HMS mengadakan acara pelatihan dasar mengolah data dengan SPSS (Statistical Package for Social Science) yang disampaikan langsung oleh Mas Yerus (dosen prodi saya). Sebenarnya di kuliah semester mendatang akan dibahas juga sih, tapi sayang kalau dilewatkan. Sudah lama sekali saya kepingin belajar ngolah data. Sebagai pertimbangan supaya cepat mahir ngotak-atik data statistik. Lebih cepat bisa kan lebih baik.

Sebenarnya saya kepingin langsung sharing pelajaran yang saya dapat tadi sore. Review materi supaya tidak lupa, sekaligus bagi-bagi ilmu. Tapi malam ini saya kok cape sekali. Perjuangan menuntaskan materi kuis pagi tadi rupanya menguras banyak energi. Saya khawatir kalau tidak rehat besok malah sakit.

Jadi saya istirahat dulu deh, ya..

Jika cabai punah


Bayangkan jika suatu ketika cabai itu punah! Apa yang terjadi pada pecinta sambal dan lalapan? Bagi negara penghasil rempah-rempah seperti Indonesia, bukan hal aneh jika penduduknya suka mengonsumsinya. Saking sukanya orang lalapan juga tidak kira-kira. Tempe satu, cabai tujuh. Nasi secentong, sambal secobek. Kadang ada juga rumah tangga yang tidak bisa makan tanpa cabai. Pokoknya harus ada.

Makanya belum lama ini kecintaan orang pada cabai menjadi sasaran pembuat cemilan. Tidak tanggung-tanggung lagi. Anda tentunya tau kesuksesan Maicih menjual produknya. Berapa banyak cabai yang digunakannya?

Hanya sekedar guyon saja: Manusia rakus makan cabai, sekali makan jumlahnya banyak, lalu dikali jumlah manusia di bumi. Disusul modernisasi yang membuat orientasi pekerjaan petani berubah. Saya hanya membayangkan, apa yang akan terjadi jika cabai punah. Kira-kira apa solusi orang untuk menanggulagi kebutuhannya pada cabai? Apa yang akan menjadi bahan substitusi cabai?

Lalap lada, begitu? :D

Selamat sore Ki Sanak, apakah Anda makan cabai hari ini?

Hari ini


Hari ini…

saya banyak menangis, seharian menangis…
saya juga tidak berangkat ke kampus, tentu tidak fokus,
saya juga tidak berselera makan, pukul 3 sore tadi saya baru makan,
saya pun hampir tidak mandi, berpikir, untuk apa pula saya mandi,

lalu saya menangis, lagi, kemudian berhenti, lalu menangis lagi, lagi, lagi..
lalu tissue pun habis..
maka kaos menjadi pengelap ingus dan air mata..
saya mulai sibuk dengan pesan di hanphone, tak tik tak tik… dan srottt, menyeka ingus…
lalu berkali-kali telephone berdering, lalu bersuara… lama.. lama.. menurun..
lalu menangis lagi, lagi, lagi…
lalu kami berjabat tangan..
tersenyum..

hari ini…

Pesan untuk adikku


Adik-adikku sekalian….
Menurutlah apa kata ibumu. Jangan melawan kalau disuruh segera makan atau tidur.
Karena ketika kamu telah menjadi dewasa, kamu akan semakin susah mencari waktu untuk tidur. Sebagian besar waktumu akan lebih banyak kamu gunakan untuk bekerja, belajar, dan mencari uang yang bisa kamu gunakan untuk mencukupi kebutuhan hidupmu. Kadang kamu harus lembur, belajar semalaman, bahkan bisa jarang makan.

Namun, itu hanya sebuah pesan…
Kamu bisa saja tidur-tiduran seharian. Tapi perlu kakak ingatkan. Beban sosial yang kamu pikul akan semakin berat. Tentu kamu tidak mau dilabel dengan “dasar pemalas”, bukan…

Bersemangatlah :)


Saya heran mengapa banyak orang yang ingin cepat menikah. Kalau tujuannya untuk segera membina keluarga yang berdasarkan cita-cita bersama sih mungkin tidak lucu, masuklah diakal. Lucunya orang cepat-cepat menikah karena takut tidak laku. Jadi perawan tua atau jadi pria kesepian. Dan anehnya lagi, yang sudah menikah duluan itu malah menertawakan yang belum menikah juga. Kok mereka yang seperti itu nampaknya tidak tau alasan mengapa orang menunda usia pernikahan.

Asal tahu saja Ki Sanak, orang menunda usia pernihakan bukan karena tidak mampu menikah atau karena tidak laku. Tapi ada hal-hal yang masih ia perjuangkan untuk menjadi bekal di kehidupan mendatang. Misalnya orang memilih untuk  mewujudkan cita-citanya lebih maksimal, mengejar karier, menuntut ilmu yang tinggi, atau jadi relawan pendidikan. Justru kalau Anda menikah cepat-cepat (dalam kategori takut tidak laku) artinya Anda bukan orang keren. Jelas!

Orang keren itu tidak khawatir tidak dapat jodoh. Orang keren itu adalah orang yang bisa menikah kapanpun dan dengan siapapun yang ia pilih. Namanya saja orang keren, mau menikah dengan siapa saja ya tinggal tunjuk, laksanakan. Ya tentunya ada indikator yang bikin dia jadi keren, misalnya cv-nya. Jadi dia menikah bukan tanpa modal. Tapi sudah ada modal yang layak untuk membina sebuah keluarga. Misalnya ilmu yang cukup, keterampilan kerja, tempat tinggal, dsb. Siapa yang tidak mau menikah dengan orang yang seperti itu?

Nah kalau Anda menemukan orang yang cepat menikah tanpa ada tujuan pasti dan cuma karena alasan takut tidak berjodoh, jelas dia buka orang keren! Anda tidak perlu mempertimbangkannya lagi!


Kadang-kadang saya menemukan lagu itu hanya bagus musiknya saja. Kadang liriknya saja. Jarang-jarang lagu bisa memiliki musik sekaligus lirik yang sama-sama bagus. Padahal kalau dua-duanya bagus pasti lebih enak didengarkan. Lebih mengena gitu..

Sayangnya entah kenapa industri musik di tanah air ini sekan kerjanya setengah-setengah. Musik yang beredar kadang menyajikan lagu yang liriknya tidak kompatibel dengan musiknya, atau sebaliknya. Jadi lagu yang sebenarnya bagus jadi engga begitu bagus.

Saya barusan menemukan lagu ini. Lagunya sudah lama, tapi saya cari lagi karena saya taunya waktu itu masih setengah-setengah.
Menurut saya lagu ini liriknya hanya bagus yang di bait pertama saja. Musiknya juga begitu. Selebihnya biasa saja. Tidak bagus-bagus amat.

Menurut Anda, lagu bagus itu seperti apa?
Kalau menurut saya Lagu bagus itu kalau lirik dan musiknya sama-sama bagus. Kalau liriknya tidak kompatibel sama musiknya, buat saya tetep engga bagus. Biasa saja!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.289 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: